KU
TUNGGU SAMPAI RIDHONYA ORANG TUAKU
“Stop….stop….disini rumahku!” Aku hampir
terperanjat dari konsentrasi menyetir karena
teriakkan temanku.
“Maaf
aku lupa,,hehehe” Tampangku yang sok blo’on
keluar
“Katanya
sudah tau rumahku, eh ternyata nyrocos aja, ya udah besok kita cap cus lagi ya makasih sudah
diantarkan!”
“Oke,oke
mumumu!”
Jam tanganku menunjukan pukul 17.00 dan aku belum pulang,
itu sudah menjadi kebiasaan ku sebagai siswi aktivis yang sok sibuk. Lagi-lagi untuk mengurangi rasa boring karena seharian
bergelut dengan jalan raya dan sepeda, aku menghibur diriku sendiri dengan
membayangkan hal yang mustahil dan bersifat indah sepanjang perjalanan pulang,
“Hallo semuanya? Perkenalkan nama saya Cinta Safira Afifah, saya berasal dari Kabupaten
Blitar Jawa Timur, baik disini saya akan menyampaikan sejarah perjalanan saya,
dari latar belakang tidak bisa ‘apa-apa’ dan sekarang sudah memiliki sedikit
kemampuan untuk muncul didepan teman-teman semuanya” Ya itulah yang salalu aku
angan-angankan, aku selalu bermimpi untuk menjadi wanita berkarir yang mapan dan dikenal diseluruh
penjuru dunia.
“Dalam menempu…..”
Kalimat ku terpotong oleh percikan air, aku sejenak melihat ke cakrawala dan
ternyata langit berwarna ke abu-abuan, grimis memecahkan lamunanku. Aku berhenti,
dengan tergesa-gesa aku melepas sepatuku dan mengambil jas hujan yang ada di jok motor, aku segera memakainya karena
hujan semakin deras.
Tak berlama-lama, aku langsung ngebut saja. 30 menit berlalu oleh semua lamunan indahku, aku tiba
di istana tercinta. “Assalamu’alaikum?” “Waalaikumsalam, kenapa pulang petang?”
Pertanyaan ayahku yang tak biasa aku dengar selama, sekian kali aku pulang
petang. “Tadi harus ke Blitar Yah.” Jawabku sedikit gembira “Loh memangnya
sekolahmu pindah ke Blitar?” Dengan pertanyaan yang satu ini aku sedikit
tergesa-gesa untuk menjawab kebenarannya, karena aku memang tidak mau membuat
orang tua ku satu-satunya ini merasa kecewa oleh tingkahku. “Anu...ada kegiatan
sekolah Yah.” Hanya mendengarkan argumenku dan tidak menanggapinya ayahku
bergegas ke mushola dekat rumahku, karena seruan Azan Magrib sudah dikumandangkan.
Aku langsung menuju kamar, itulah kebiasaan jelekku yang
selalu aku lakukan, setelah ibunda tercinta kembali kesisi-Nya. Aku adalah anak
ke-5 dari 5 bersaudara, kakakku semuanya laki-laki. Aku serumah dengan kakak
sulungku. Kakak ku yang satu ini dapat dibilang kurang beruntung dari pada
saudaraku yang lain, selalu saja dalam berusaha ia gagal, dan meskipun sekarang
ia sudah berkeluarga ia memilih untuk tetap tinggal serumah dengan orang tua. Aku
bergegas mandi, setelah itu aku mengambil air wudlu dan menunaikan shalat
Magrib.
*********
“Hai
teman-teman?” Sapaan genit yang sudah terbiasa aku lakukan sejak 3 tahun lalu, semenjak
aku bersekolah di SMA Harapan. “Ta, nih buat kamu tadi dari kesiswaan!” Fia
berjalan kearahku sambil memberikan sebuah dokumen.”What it this?” I don’t
know, paling dokumen pendaftaran perguruan tinggi.” Ya, saat ini seangkatan
kami telah dibingungkan oleh pilihan perguruan tinggi. Ada yang mau ke
akuntansi, hubungan internasioanal, apalah aku tak begitu tau.
Aku
membuka dokumen itu dengan rasa penasaran, kop nya aku baca dengan teliti Oxford Health Scholarships. Aku
terperanjat kaget “What???” aku gemeteran dan rasanya ingin pingsan, kakiku
lemas seperti tak ada tenaga yang menyusup ke tulang-tulangku aliran darahku
serasa berhenti dan aku tak sanggup bernafas.
“Fia….nitip!!!!!!”
accccccchhhhhh, suara Fia memekik kesakitan, aku melempar tas ke muka Fia, tak
ku anggap omelan Fia aku langsung lari bagaikan tornado. Aku menemui waka kesiswaan,
dengan nafas yang terengah-engah aku mencoba memperjelas maksud dari dokumen
itu.
“Pak???”
“Ohh
Cinta, tadi document nya sudah diterima?”
“Sudah
pak!” Aku senyum-senyum malu dan bahagia, karena mengerti maksud kop surat
dokumen itu.
“Nanti
kamu ikut saya ke Dinas Pendidikan Kabupaten untuk administrasi dan kelengkapan
data pelajar luar Negeri.”
“Iya
pak”
Aku
sangat senang sekali, doaku selama ini yang aku panjatkan kepada Tuhan setiap
tiga per empat malam terjawab sudah.Harapanku untuk menempuh pendidikan diluar
negeri dengan jalur beasiswa menjadi kenyataan. Setelah selesai mengurus
administrasi, aku bergegas pulang dan mengabarkan berita baik itu kepada
keluargaku terutama kepada ayahku.
“Sekolah
yang dekat-dekat saja, kasihan Ayah mu Ta, dirumah sendiri, nanti siapa yang
urus, ya kalau mau kuliah di Malang saja, biar tiap satu minggu sekali bisa
pulang mejenguk keluarga.” Kalimat itu yang membuat harapan, cita-cita dan kekuatan,
yang selama ini aku kumpulkan serasa diterjang tsunami 99.99 skala Richter,
musnah sudah. Aku terlalu sayang pada kebersamaan ku dengan ayahku, aku tak sanggup
jika harus meninggalkan ayahku sendirian, rasanya aku benar tak tega, tapi
keinginanku untuk bersekolah di luar negeri untuk memperoleh financial yang
lebih baik dan membanggakan orang tuaku, aku menginginkan itu dan sekarang
adalah kesempatan yang tepat.
Setelah
kakak ku mengatakan itu, kekuatanku untuk mengatakan kabar besar itu kepada ayahku,
surut sudah. Ibarat kolam renang yang sedang dikuras, tanpa air kosong mlompong.
Aku menangis sepanjang malam dan siang karena meratapi nasip ini, rasanya aku
tak bisa melewati ini. Tangisku makin menjadi-jadi saat aku mengingat ibunda
tercinta, rasanya aku ingin ia kembali untuk memberikan sejuta petunjuk yang
dulu kerap kudapatkan disaat masalah menghampiriku.
“Aku
tak bisa seperti ini, aku harus memutuskan sesuatu yang baik untuk masa depan,
putuskan sesuatu yakinlah bahwa keputusanmu itu baik”
**********
13
Agustus 2012, tepat pukul 05.00 aku mulai packing,
dari pakaian, makanan, tak lupa seperangkat buku yang sekiranya masih perlu digunakan,
aku masukan kedalam koper besar. Ya hari ini adalah keberangkatan study ku.
Panitia SNMPTN menginformasikan kepada mahasiswa baru jalur beasiswa H-2
sebelum study dimulai, harus stand by di asrama kampus.
Aku
diantar sampai bandara Juanda Surabaya karena panitia SNMPTN beasiswa menunggu
kami di…..,fisik, mental dan segalanya aku persiapkan, inilah study pertama ku
yang jauh. Aku berpamitan dengan tetesan air mata. “Doakan Yah, semoga aku bisa
sukses” pamitku kepada Ayahku tercinta kalimatku terbata-bata. “Kamu hati-hati
disana, kalau ada apa-apa telepon saja, disana jangan boros-boros” Lagi-lagi
kalimat ayahku yang kalem itu menandakan bahwa beliau sudah belia dan tak
berdaya, dan pesannya mengingatkanku pada Ibunda tercinta, yang selalu
mewanti-wanti segala hal yang baik kepada ku.
Aku
diantarakan ke asrama kampus oleh
panitia SNMPTN jalur beasiswa, rasanya hati ku gemetar dan senang karena aku
sudah memutuskan hal baik untuk ku saat ini dan masa depanku nantinya. Aku
lihat dan aku baca dalam hati sambil kumantapkan niat ku kembali untuk study dan
meraih mimpi di kampus ini. INSTITUT PERTANIAN BOGOR ya itu tulisan yang
tertera di pintu masuk kampus pilihanku, ekosistem baruku dan aku yakin kampus
ini yang akan membawaku pada kebaikan financial dan apresiasiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar