Sabtu, 13 April 2013

Cerpen 14 April 2013


KU TUNGGU SAMPAI RIDHONYA ORANG TUAKU


 “Stop….stop….disini rumahku!” Aku hampir terperanjat dari konsentrasi menyetir karena teriakkan temanku.
“Maaf aku lupa,,hehehe” Tampangku yang sok blo’on keluar
“Katanya sudah tau rumahku, eh ternyata nyrocos aja, ya udah besok kita cap cus lagi ya makasih sudah diantarkan!”
“Oke,oke mumumu!”
            Jam tanganku menunjukan pukul 17.00 dan aku belum pulang, itu sudah menjadi kebiasaan ku sebagai siswi aktivis yang sok sibuk. Lagi-lagi untuk mengurangi rasa boring karena seharian bergelut dengan jalan raya dan sepeda, aku menghibur diriku sendiri dengan membayangkan hal yang mustahil dan bersifat indah sepanjang perjalanan pulang, “Hallo semuanya? Perkenalkan nama saya Cinta Safira Afifah, saya berasal dari Kabupaten Blitar Jawa Timur, baik disini saya akan menyampaikan sejarah perjalanan saya, dari latar belakang tidak bisa ‘apa-apa’ dan sekarang sudah memiliki sedikit kemampuan untuk muncul didepan teman-teman semuanya” Ya itulah yang salalu aku angan-angankan, aku selalu bermimpi untuk menjadi wanita berkarir yang mapan dan dikenal diseluruh penjuru dunia.

“Dalam menempu…..” Kalimat ku terpotong oleh percikan air, aku sejenak melihat ke cakrawala dan ternyata langit berwarna ke abu-abuan, grimis memecahkan lamunanku. Aku berhenti, dengan tergesa-gesa aku melepas sepatuku dan mengambil jas hujan yang ada di jok motor, aku segera memakainya karena hujan semakin deras.
            Tak berlama-lama, aku langsung ngebut saja. 30 menit berlalu oleh semua lamunan indahku, aku tiba di istana tercinta. “Assalamu’alaikum?” “Waalaikumsalam, kenapa pulang petang?” Pertanyaan ayahku yang tak biasa aku dengar selama, sekian kali aku pulang petang. “Tadi harus ke Blitar Yah.” Jawabku sedikit gembira “Loh memangnya sekolahmu pindah ke Blitar?” Dengan pertanyaan yang satu ini aku sedikit tergesa-gesa untuk menjawab kebenarannya, karena aku memang tidak mau membuat orang tua ku satu-satunya ini merasa kecewa oleh tingkahku. “Anu...ada kegiatan sekolah Yah.” Hanya mendengarkan argumenku dan tidak menanggapinya ayahku bergegas ke mushola dekat rumahku, karena seruan Azan Magrib  sudah dikumandangkan.
            Aku langsung menuju kamar, itulah kebiasaan jelekku yang selalu aku lakukan, setelah ibunda tercinta kembali kesisi-Nya. Aku adalah anak ke-5 dari 5 bersaudara, kakakku semuanya laki-laki. Aku serumah dengan kakak sulungku. Kakak ku yang satu ini dapat dibilang kurang beruntung dari pada saudaraku yang lain, selalu saja dalam berusaha ia gagal, dan meskipun sekarang ia sudah berkeluarga ia memilih untuk tetap tinggal serumah dengan orang tua. Aku bergegas mandi, setelah itu aku mengambil air wudlu dan menunaikan shalat Magrib.
*********
            “Hai teman-teman?” Sapaan genit yang sudah terbiasa aku lakukan sejak 3 tahun lalu, semenjak aku bersekolah di SMA Harapan. “Ta, nih buat kamu tadi dari kesiswaan!” Fia berjalan kearahku sambil memberikan sebuah dokumen.”What it this?” I don’t know, paling dokumen pendaftaran perguruan tinggi.” Ya, saat ini seangkatan kami telah dibingungkan oleh pilihan perguruan tinggi. Ada yang mau ke akuntansi, hubungan internasioanal, apalah aku tak begitu tau.
            Aku membuka dokumen itu dengan rasa penasaran, kop nya aku baca dengan teliti Oxford Health Scholarships. Aku terperanjat kaget “What???” aku gemeteran dan rasanya ingin pingsan, kakiku lemas seperti tak ada tenaga yang menyusup ke tulang-tulangku aliran darahku serasa berhenti dan aku tak sanggup bernafas.
            “Fia….nitip!!!!!!” accccccchhhhhh, suara Fia memekik kesakitan, aku melempar tas ke muka Fia, tak ku anggap omelan Fia aku langsung lari bagaikan tornado. Aku menemui waka kesiswaan, dengan nafas yang terengah-engah aku mencoba memperjelas maksud dari dokumen itu.
            “Pak???”
            “Ohh Cinta, tadi document nya sudah diterima?”
            “Sudah pak!” Aku senyum-senyum malu dan bahagia, karena mengerti maksud kop surat dokumen itu.
            “Nanti kamu ikut saya ke Dinas Pendidikan Kabupaten untuk administrasi dan kelengkapan data pelajar luar Negeri.”
            “Iya pak”
            Aku sangat senang sekali, doaku selama ini yang aku panjatkan kepada Tuhan setiap tiga per empat malam terjawab sudah.Harapanku untuk menempuh pendidikan diluar negeri dengan jalur beasiswa menjadi kenyataan. Setelah selesai mengurus administrasi, aku bergegas pulang dan mengabarkan berita baik itu kepada keluargaku terutama kepada ayahku.
            “Sekolah yang dekat-dekat saja, kasihan Ayah mu Ta, dirumah sendiri, nanti siapa yang urus, ya kalau mau kuliah di Malang saja, biar tiap satu minggu sekali bisa pulang mejenguk keluarga.” Kalimat itu yang membuat harapan, cita-cita dan kekuatan, yang selama ini aku kumpulkan serasa diterjang tsunami 99.99 skala Richter, musnah sudah. Aku terlalu sayang pada kebersamaan ku dengan ayahku, aku tak sanggup jika harus meninggalkan ayahku sendirian, rasanya aku benar tak tega, tapi keinginanku untuk bersekolah di luar negeri untuk memperoleh financial yang lebih baik dan membanggakan orang tuaku, aku menginginkan itu dan sekarang adalah kesempatan yang tepat.
            Setelah kakak ku mengatakan itu, kekuatanku untuk mengatakan kabar besar itu kepada ayahku, surut sudah. Ibarat kolam renang yang sedang dikuras, tanpa air kosong mlompong. Aku menangis sepanjang malam dan siang karena meratapi nasip ini, rasanya aku tak bisa melewati ini. Tangisku makin menjadi-jadi saat aku mengingat ibunda tercinta, rasanya aku ingin ia kembali untuk memberikan sejuta petunjuk yang dulu kerap kudapatkan disaat masalah menghampiriku.
            “Aku tak bisa seperti ini, aku harus memutuskan sesuatu yang baik untuk masa depan, putuskan sesuatu yakinlah bahwa keputusanmu itu baik”
**********
            13 Agustus 2012, tepat pukul 05.00 aku mulai packing, dari pakaian, makanan, tak lupa seperangkat buku yang sekiranya masih perlu digunakan, aku masukan kedalam koper besar. Ya hari ini adalah keberangkatan study ku. Panitia SNMPTN menginformasikan kepada mahasiswa baru jalur beasiswa H-2 sebelum study dimulai, harus stand by di asrama kampus.
            Aku diantar sampai bandara Juanda Surabaya karena panitia SNMPTN beasiswa menunggu kami di…..,fisik, mental dan segalanya aku persiapkan, inilah study pertama ku yang jauh. Aku berpamitan dengan tetesan air mata. “Doakan Yah, semoga aku bisa sukses” pamitku kepada Ayahku tercinta kalimatku terbata-bata. “Kamu hati-hati disana, kalau ada apa-apa telepon saja, disana jangan boros-boros” Lagi-lagi kalimat ayahku yang kalem itu menandakan bahwa beliau sudah belia dan tak berdaya, dan pesannya mengingatkanku pada Ibunda tercinta, yang selalu mewanti-wanti segala hal yang baik kepada ku.
            Aku diantarakan ke asrama kampus  oleh panitia SNMPTN jalur beasiswa, rasanya hati ku gemetar dan senang karena aku sudah memutuskan hal baik untuk ku saat ini dan masa depanku nantinya. Aku lihat dan aku baca dalam hati sambil kumantapkan niat ku kembali untuk study dan meraih mimpi di kampus ini. INSTITUT PERTANIAN BOGOR ya itu tulisan yang tertera di pintu masuk kampus pilihanku, ekosistem baruku dan aku yakin kampus ini yang akan membawaku pada kebaikan financial dan apresiasiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar